top of page

Tarsius, Monyet Hantu, Pembawa Sial & Buang Pelor...


Penasaran”…mungkin itu kata yang lebih tepat muasal jatuh cinta dengan tarsius. Mitosnya yang melegenda sebagai monyet hantu dan pembawa sial cukup bikin merinding juga di awal awal jumpa. Bagaimana tidak, bumbu penyedap bahwa ketika ada orang ketemu tarsius, atau yang dikenal dalam bahasa local “Pelilean”, hati-hatilah karena dibelakangnya ada hantu mengikuti dan pertanda akan ada kesialan yang akan terjadi.

Dan rasa “penasaran” jualah yang mempertemukan diriku dengan fakta bahwa “pelilean” adalah seekor primata purba yang sangat langka di dunia, lebih dari sekedar ia kecil mungil, bisa memutar kepala dan matanya merah besar ketika terkena cahaya.

Setelah kenal cukup lama dan jatuh cinta, ada kekhawatiran juga yang mendera bahwa pada suatu ketika tarsius ini akan sirna kalau tak ada upaya nyata tuk melestarikannya. Dan sayangnya selain factor kehilangan habitat alami akibat pembukaan hutan tuk kebun sawit, tambang, pemukiman dan sebagainya, mitos sebagai monyet hantu dan pembawa sial cukup signifikan berperan dalam penghilangan tarsius, karena ada istilahnya “buang pelor” ditembak namun bukan buat diambil untuk lepas dari kesialan tersebut.

Karenanya meski dengan keterbatasan kemampuan dan juga wawasan, sayapun mencoba tuk melakukan penelitian “pemecahan mitos”, dalam artian mencoba menemukan asal muasal cerita mengapa disebut monyet hantu dan juga pembawa sial, dengan harapan ketika mitos ini terkuak, kepercayaan “buang pelor” akan sirna sehingga dengan sendirinya laju kepunahan bisa sedikit dikurangi.

Otakpun mulai diputar karena kebingungan nih penelitian harus mulai dari mana. Klak klik mbah gugle juga nyerah karena memang tidak ada yang melakukan pendalaman materi ini sebelumnya. Lambat laun mulailah berkeliling dan ngobrol sana sini dengan orang orang tua, utamanya yang ada dikampung kampung tuk mendengarkan cerita mereka.

Dan singkat cerita akhirnya penulis simpulkan bahwa mitos “monyet hantu” berasal dari para pemburu yang kerja sehari-harinya ke hutan tuk mencari pelanduk alias kancil pada malam hari.

“Kamekkan biasenye men ke bangutan makai sibeng depala idang nyenter pelandok. Nah biasenye tika bangutan ade pelilean ne terus ngeliat lampu kite, die rajin ngikutek, ..luncat sanak luncat sinek ngikutek lampu. Tika tika die ngeluncat kabaan lampu, inggap de batang, kepalae mutar kenak lampu sibeng tek mira benyalak. Ape dak ketekejutan. Dak lama ngelumpat pulak die ke batang lain lalu ngilang..macam ki antu. Makenye kamek sebut “kerak antu”. (Kami kan biasanya kalau ke hutan memakai lampu di kepala untuk melihat pelanduk. Nah biasanya kalau di hutan ada pelilean, terus dia melihat lampu kita, dia biasanya ngikutin. Lompat sana lompat sini mengikuti lampu. Ketika dia melompat kehadapan kita, hinggap di pohon, kepalanya memutar dan kena cahaya lampu akan merah menyala. Apa tidak bikin terkejut.. Tak lama melompat lagi ke pohon yang lain dan menghilang. Seperti hantu. Makanya kami menyebutnya “Monyet Hantu”)

Perulangan cerita ini yang dialami oleh para pemburu, menjadikan kepercayaan bahwa pelilean adalah seekor monyet hantu dan menjadikannya sebagai mitos.

Cerita bahwa tarsius ini juga pembawa sial atau yang bertemu dengannya akan terkena kesialan juga saya dapati berasal dari sumber yang sama yaitu para pemburu. Ada dua versi yang saya dapati.

Versi pertama… “Kamek kan me nak gi nimbak ye pasti semangat la ye. Nah pas de jalan ketemu kan pelilean, ngeluncat dabaan dirik terus matenye mira kenak lampu sibeng, dak lama ngeluncat pulak ngilang..ape dak muat ketekejutan. Terus pas nimbak tek delanjutek ngan dak ketemu kan pelandok, kamek piker ini pastila karene isak ketemu kan pelilean tek. Jadi imang die to mawak sial. Terus me nak lepas dari sial tek, kamek timbak, istilanye muang pilor biar lepas sialnye tek. (Kami kan kalau mau berburu ke hutan pasti semangat. Nah, ketika dijalan bertemu pelilean, melompat di hadapan kita dan matanya bersinar merah terkena lampu dan seketika menghilang kembali..sangat membuat terkejut. Lantas ketika perburuan dilanjutkan dan tidak berhasil menemukan pelanduk, kami berfikir pastilah ini karena pernah bertemu pelilean tadi. Jadi memang pelilean itu membawa sial. Lantas untuk lepas dari kesialan tersebut, kami tembak, istilahnya buang peluru supaya lepas dari sial tersebut.)

Versi kedua…

“Pelilean ne men maen sekitar belasan miter ngan rada ketana diame, men malam matenye persis ki macam mate pelandok. Jadi pas kamek timbak lalu kenak, pas diambik ternyate pelilean. “Sialan pelilean rupenye..” (Pelilean ini kalau bermain di jarak belasan meter dan tak jauh dari tanah, pada malam hari matanya persis sama dengan mata pelanduk. Jadi pas kami tembak dan kena, ketika diambil ternyata pelilean. “Sialan ternyata pelilean”.)

Perulangan cerita dari para pemburu yang mengalami hal yang sama kemudian mengkerucut kepada sebuah mitos bahwa tarsius adalah pembawa sial dan untuk lepas dari kesialan tersebut ya tarsiusnya ditembak atau istilah mereka “buang peluru”.


About Me.

Over 20 years passioned in the environment, community empowerment, conservation, education and economic inclusive. Established NGO-KPLB since 1997, built Batu Mentas Natural Park and conducted in the research and conservation of Tarsius since 2007. Now active also in Perkumpulan Telapak Indonesia as National Coordinator of Community Based Tourism and actively helping communities in various places in Indonesia to develop their potencies become a destination, from strengthening in the grass root till building an international market. Active also in building piloting sustainable best reclamation model in several places affected by the mine.

Awarded Wana Lestari Award 2011 from Ministry of Forestry RI, Coastal Award 2012 from Ministry of Marine Affairs RI, invited as IVLP representative from US Ministry 2014, was awarded Equator Prize Award 2015 from UNDP and International representative speaker at the peak of World Ocean Day 2017 at United Nation Headquarter office in New York.

  • Black Facebook Icon
  • Black Instagram Icon
  • Black Twitter Icon
Never Miss a Post!

Hi, I am Budi Setiawan

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Twitter Icon

Over 20 years passioned in the environment, community empowerment, conservation, education and economic inclusive. Established NGO-KPLB since 1997, built Batu Mentas Natural Park and conducted in the research and conservation of Tarsius since 2007. Now active also in Perkumpulan Telapak Indonesia as National Coordinator of Community Based Tourism and actively helping communities in various places in Indonesia to develop their potencies become a destination, from strengthening in the grass root till building an international market. Active also in building piloting sustainable best reclamation model in several places affected by the mine.

Awarded Wana Lestari Award 2011 from Ministry of Forestry RI, Coastal Award 2012 from Ministry of Marine Affairs RI, invited as IVLP representative from US Ministry 2014, was awarded Equator Prize Award 2015 from UNDP and International representative speaker at the peak of World Ocean Day 2017 at United Nation Headquarter office in New York and received "Tourism for Tomorrow Award 2019" from World Travel & Tourism Council (WTTC) in Seville, Spain.

bottom of page